PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA

Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Awalnya penyakit ini berkembang di pertanaman padi gogo, tetapi akhir-akhir sudah menyebar di lahan sawah irigasi. Jamur P. grisea dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen.

Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak cokelat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen

Padi Gambar oleh zcf428526 dari Pixabay

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS

Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas seperti tanah, pengairan, kelembaban, suhu, pupuk dan ketahanan varietas. Faktor-faktor tersebut merupakan komponen epidemi penyakit yang dapat dikelola untuk tujuan pengendalian penyakit blas. Upaya untuk mengendalikan penyakit blas melalui pengelolaan komponen epidemi secara terpadu mempunyai peluang keberhasilan tinggi.

 PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS DENGAN TEKNIK BUDIDAYA

  1. Penanaman Benih Sehat : Jamur penyebab penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Pertanaman yang terinfeksi penyakit blas sangat tidak dianjurkan digunakan sebagai benih. Hal ini perlu sebagai syarat untuk kelulusan uji sertifikasi benih. Perlu dilakukan perlakuan/pengobatan benih dengan fungisida sistemik seperti triklazole dengan dosis formulasi 3-5g/kilogram benih. Pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih dengan fungisida anjuran.
  2. Perendaman Benih : Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam. Perbandingan berat biji dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar di atas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan. Perendaman benih padi sawah dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman
  3. Cara Pelapisan Benih : Benih direndam dengan air selama beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan 2 kg benih basah dan dikocok sampai merata, kemudian gabah dikering anginkan dengan cara yang sama dengan metode perendaman selanjutnya benih siap disemaikan.
  4. Cara Tanam : Cara tanam menggunakan sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Selain itu, dengan pengairan berselang, untuk mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghindarkan terjadinya gesekan antar daun.
  5. Pemupukan : Pupuk nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit blas. Artinya pertanaman yang di pupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk kalium tanaman lebih tahan terhadap penyakit balas. Maka penggunaan pupuk nitrogen dan kalium harus berimbang.

PENANAMAN VARIETAS TAHAN

Penggunaan varietas tahan harus disesuaikan dengan sebaran ras yang ada di suatu daerah. Upaya lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah dengan tidak menanam padi secara monogenic (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus-menerus.

PENGGUNAAN FUNGISIDA UNTUK PENYEMPROTAN TANAMAN

Perlakuan benih dengan fungisida untuk pengobatan benih hanya bertahan sema 6 minggu. Selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan tanaman. Penyemprotan dengan fungisida sebaiknya dilakukan 2 kali pada saat stadia tanaman padi anakan maksimum dan awal berbunga.

PENCEGAHAN

  1. Sanitasi lingkungan : Sanitasi dengan menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman.
  2. Pemberian kompos jerami : Pemberian bahan organik berupa jerami sisa panen untuk penyebaran lahan harus dikomposkan lebih dulu. Pengompasan jerami dapat menyebabkan miselia dan spora jamur mati, karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.

Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas

  1. Menggunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat
  2. Menggunakan benih sehat
  3. Hindarkan penggunaan pupuk nitrogen di atas dosis anjuran
  4. Menghindari tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun
  5. Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan
  6. Menghindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya
  7. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar
  8. Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman akan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik
  9. Hindarkan jarak tanam rapat
  10. Pemakaian kompos sebagai sumber bahan organik

 

Sumber : Gema Penyuluhan tahun ke 7/Edisi IV : Januari – Maret 2016

Comments