BUDIDAYA JAGUNG
PENDAHULUAN
Jagung merupakan bahan makanan pokok utama di Indonesia yang memiliki kedudukan sangat penting setelah beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga mengalami perkembangan ekonomi yaitu jagung juga merupakan bahan pokok bagi industri pakan ternak. Hal ini menjadi salah satu faktor berkembangnya kebutuhan jagung semakin meningkat.
![]() |
| Jagung Gambar oleh muhammad aamir akhter dari Pixabay |
PENANAMAN JAGUNG
Tanaman jagung di tanam pada lahan kering atau lahan sawah setelah padi musim hujan.
- Pemilihan benih : Umumnya benih varietas unggul bersertifikat yang dijual di pasaran sudah dibubuhi fungisida. Penggunaan fungisida untuk melindungi benih dari serangan penyakit bulai saat awal pertumbuhan. Jika benihnya varietas hibrida, sebaiknya setiap kali tanam menggunakan benih yang baru, karena jika benih yang berasal dari pertanaman sebelumnya hasilnya akan menurun.
- Penyiapan lahan : Jagung membutuhkan media tumbuh yang gembur dan beraerasi baik untuk pertumbuhan yang optimal. Pada tanah masam sebaiknya satu bulan sebelum tanam, tanah diberi kapur dan bahan organik terlebih dahulu. Tujuannya untuk menaikkan pH tanah dan meningkatkan kesuburan tanah. Bila drainase tanah kurang baik atau kandungan liatnya tinggi (tanah padat), jagung dapat ditanam di atas guludan.
- Waktu dan cara tanam : Jagung sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Populasi tanaman merupakan faktor yang mempengaruhi hasil. Umumnya jagung ditanam dengan populasi 60.000 – 70.000 tanaman per hektar, tergantung dari varietasnya. Varietas genjah lokal dapat ditanam lebih padat hingga 100.000 tanaman per hektar. Kepadatan tanaman yang lebih tinggi mempengaruhi besar tongkol. Bahkan, pada beberapa varietas dapat meningkatkan kerebahan dan serangan penyakit. Jarak tanam yang dianjurkan adalah jarak barisan 75 atau 80 cm dan jarak antar tanaman dalam baris 20 atau 25 cm. adapun lubang penanaman dibuat dengan cara ditugal.
- Pemupukan : Jagung merupakan tanaman yang peka terhadap kekurangan unsur nitrogen. Kebutuhannya terhadap sumber nitrogen (urea) dapat mencapai 250-300 kg/ha. Pupuk urea ini diberikan 1/3 dosis saat tanam dan saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Pupuk SP-36 dengan dosis 200 kg/ha dan KCl sebesar 75-100 kg/ha diberikan pada saat tanam. Pemberian pupuk dilakukan dalam larikan yang berjarak sekitar 7-8 cm dari lajur lubang tanam dengan kedalaman 8-10 cm.
- Pemeliharaan : Gulma dapat menurunkan hasil jagung. Oleh karena itu, sebaiknya pertanaman jagung bebas gulma saat tanam hingga sepertiga umur tanaman. Pembersihan gulma juga dapat mengurangi intensitas serangan penggerek batang. Jagung juga perlu dibubun pada umur 4 MST bersamaan dengan pemupukan kedua. Pembubunan ini memperkokoh tanaman agar tidak mudah rebah. Penyakit penting yang merugikan tanaman jagung adalah bulai (peronosclerospora maydis dan P. turcicum). Serangan di bawah umur 4 minggu sering mengakibatkan kematian. Penanggulangannya dengan cara varietas yang ditanam tahan penyakit dan benih sebelum tanam diberi perlakuan dengan fungisida Hama penting yang menyerang jagung, seperti penggerek batang dan penggerek daun. Hama ini dikendalikan dengan sanitasi lapang, rotasi tanaman, dan pemberian insektisida sistemik, seperti furadan 3G di lubang tanam dan di pucuk tanaman saat berumur 4 MST. Sementara itu serangan hama penggerek tongkol (heliothis armifera) dapat ditekan dengan penanaman varietas jagung berklobot panjang. Adapun pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida perlu dilakukan dengan hati-hati karena tanaman telah rimbun.
PANEN DAN PASCA PANEN JAGUNG
Penanganan panen dan pascapanen jagung tergantung tujuan pemanfaatannya. Panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Jagung untuk konsumsi muda dapat dipanen sekitar umur 68-70 hari. Sementara itu panen pipilan kering dilakukan pad umur 80-100 hari setelah tanam.
Jagung untuk pipilan kering dipanen bila klobot telah mengering, biji mengkilap dan terlihat ada lapisan hitam pada pangkal yang menempel pada tongkol di biji. Munculnya lapisan hitam ini atau hanya berupa noktah hitam pada beberapa varietas, menunjukkan bahwa pengisian biji telah selesai. Kadar air jagung siap dipanen umurnya berkisar 3-40%. Jika dipanen pada musim kemarau, jagung untuk pipilan dapat dibiarkan kering di lapangan selama 1-4 minggu atau setelah muncul lapisan hitam dan kadar arinya menjadi 20%, asalkan hujan tidak turun.
Setelah panen, jagung dapat langsung dipipil secara manual atau dengan alat/mesin pemipil. Jagung untuk pipilan kering sebaiknya dua kali, pertama, tongkol tanpa klobot dikeringakan hingga kadar airnya 18%. Tujuannya untuk mempermudah pemipilan. Kedua, pengeringan jagung pipilan sampai kadar airnya sebesar 14%.
Jagung dapat disimpan dalam bentuk tongkol berklobot, tongkol tanpa klobot, atau dalam bentuk biji pipilan. Penyimpanan jagung dengan kadar air di atas 14% rawang terkena cendawan Aspergillus sp. Semakin lama disimpan, semakin besar kemungkinan jagung terserang cendawan ini.
Sumber : Purwono dan Purnamawati. 2013. Budidaya 8 jenis tanaman pangan unggul. Penebar Swadaya : Jakarta.

Comments
Post a Comment